Showing posts with label Environmental concern. Show all posts
Showing posts with label Environmental concern. Show all posts
Zika Virus
Negara tetangga kita< Singapura, belakangan ini tengah dikejutkan dengan menyebarnya virus Zika yang begitu cepat. Tercatat 115 warga Singapura yang positif terjangkit virus Zika, sesuia dengan pernyataan dari Kementrian Kesehatan Singapura tanggal 31 Agustus 2016.

Tentu saja, Jarak yang cukup dekat dengan negara kita tak elak membuat kita khususnya di bagian barat seperti Sumatra dan sekitarnya menjadi was-was, dan harus waspada terhadap penyebaran virus tersebut.
Oleh karena itu, di edisi Cangkrukan kita kali ini akan sedikit membahas apa itu virus Zika, bagaimana penyebarannya dan bagaimana pula cara pencegahannya.

Virus Zika  pertama kali ditemukan oleh para ahli kesehatan terdapat pada seekor monyet resus di negara Uganda pada tahun 1947. Kemudian baru pada tahun 1954, virus Zika ditemukan penjangkitannya pada manusia. Dan di tahun 2007, virus ini mulai menyebar di kawasan luar Afrika, termasuk di Asia. Sedangkan di Indonesia sendiri, virus Zika ini ditemukan pada tahun 2015 lalu di Jambi.

Seseorang yang terjangkiti virus Zika akan mengalami gejala-gejala umum layaknya terkena penyakit demam berdarah, seperti sakit kepala, nyeri di belakang mata, serta rasa lelah.  Gejala ini akan berlangsung sekitar seminggu, yang kemudian dilanjutka dengan mata merah, kulit berbintik, hingga nyeri sendi dan otot.
Kalau sudah terkena gejala tersebut, ada baiknya jangan dianggap remeh. Segera   periksakan diri ke dokter atau rumah sakit terdekat. Terlebih bagi mereka yang baru bepergian ke luar negri.

Menurut beberapa sumber dari pakar kesehatan, virus Zika ditularkan awalnya dari orang sakit atau yang sudah terjangkiti melalui nyamuk Aedes Aegypti, nyamuk yang sama dengan demam berdarah dan chikungunya. Nyamuk Aedes Aegypti ini memang sekaligus bisa menularkan virus ketiga-tiganya. Untuk itu, masyarakat harus lebih waspada dan mengenali lebih jauh gejala dari virusZika ini.
       
Penyebaran Virus Zika
Bagaimana agar terhindar dari virus Zika?
Tentu saja sebaiknya kita menunda kunjungan ke negara-negara yang terjangkit virus Zika. Jika anda sedang hamil, maka sangat penting untuk melakukan tes virus Zika setelah bepergian, apalagi jika mendapati gejala-gejala seperti di atas.


Masyarakat harus lebih memperhatikan lingkungan  dan mencegah terjadinya perkembang-biakan nyamuk tersebut. Dengan menjaga lingkungan yang bersih, dengan menerapkan aturan 3-M Plus. Yakni, mengubur, menutup dan menguras. Plus disini, masyarakat harus lebih mempertimbangkan untuk menggunakan lotion anti nyamuk, baju dan celana panjang jika akan tidur, memastikan seluruh kamar tertutup rapat, atau pakai kelambu sehingga nyamuk tak dapat masuk.

Hingga saat ini, belum ada vaksin virus Zika. untuk itu, masyarakat harus lebih hati-hati dan menjaga kondisi tubuh agar tetap bugar. Karena beragam macam virus biasanya akan mudah menyerang mereka yang kondisi tubuhnya menurun.


Dirangkum dari berbagai sumber.
 


Seperti yang telah banyak diulas diberbagai artikel/tulisan yang banyak tersebar dimedia cetak maupun di internet bahwa banyak sekali keuntungan keuntungan yang bisa kita dapatkan dari olah raga bersepeda, maka diputuskan untuk segera mencari sepeda baru sebagai ganti dari sepeda lama yang sudah "dikuasai" agak lama oleh sang anak, sehingga tidak boleh diminta lagi. Dengan budget yang tidak gede, dan setelah melewati masa hunting dari toko ke toko. Hingga searching didunia maya di situs-situs terkenal seperti bukalapak, tokobagus, berniaga, kaskus, maupun langsung disitus sepeda branded lokal seperti: polygon, wymcycle dan united, akhirnya dapat juga sepeda "baru" dari situs bukalapak. 

Sepeda yang dijual dengan judul "baru" tersebut terbeli dengan alasan selain harganya yang sesuai budget, lokasi penjualnya di area Surabaya, juga penampilannya yang menurutku "ok". Dan Alhamdulillah, proses transaksi pun berjalan dengan aman dan lancar. Dengan menambah ongkos kirim yang masuk akal, bahkan tergolong murah, sepeda idaman akhinya sudah ada ditangan. Sepeda berwarna putih kombinasi hitam tersebut langsung menjadi pusat perhatian dan mengisi kesibukan sehari-hari.

Walhasil, pencanangan agenda gowes pun mulai dilakukan. Hampir semua hari diplot untuk ada kegiatan bersepeda. Mulai agenda gowes sendirian, gowes bareng-bareng anak dan bahkan gowes dengan rekan-rekan dan teman-teman di Gresik. Semuanya direncanakan. Walaupun toh kenyataannya hanya hari Sabtu dan Minggu doang yang bisa terealisasikan di minggu minggu awal memiliki sepeda gunung.

Dan seperti sebelum-sebelumnya, kampanye bersepeda ke rekan-rekan kerja yang lain pun berlangsung seiring dengan kegiatan gowes tersebut. Baik ditujukan kepada rekan-rekan yang sudah mempunyai sepeda tapi kemudian lama digantung. Ataupun rekan-rekan yang memang belum pernah sama sekali melakukan kegiatan bersepeda alias tidak punya sepeda sama sekali. Dengan tujuan menyebarkan penyakit sehat dengan gowes bareng. Dan juga menambah pasukan bersepeda agar kegiatan gowesnya semakin meriah dan menggembirakan.
Pada minggu pertama, nggowes dengan anak dilakukan dengan start dari rumah(Perum GKA Gresik) dengan tujuan berkeliling hingga Kawasan Industri Gresik(KIG). Menyusuri jalan dari GKA menuju ke GKB lewat perempatan supermaket Alfa Midi, lalu meluncur ke bunderan GKB. Setelah itu melintas di sepanjang jalan Randu Agung dan masuk ke area PT Petrokimia Gresik. Perjalanan gowes kemudian dilanjutkan ke Kawasan Industri Gresik(KIG) menyusuri jalan paving. Sempat beberapa saat berhenti untuk beristirahat sejenak. Perjalanan gowes kemudian diteruskan dengan menembus lintasan jalan desa Yoso wilangun kearah jalan utama di depan supermarket Giant GKB. setelah itu perjalanan dilanjutkan menyusuri Jl. Sumatra GKB, melingkari bunderan GKB dan diteruskan lewat depan UNMUH Gresik. Dari sini kita berhenti untuk istirahat lagi....setelah beberapa menit menikmati air putih yang seakan-akan terasa lebih segar dari biasanya, kita pun melanjutkan lagi perjalanan gowes minggu ini. Menyusuri jalanan perumahan GKA dengan santai menuju rumah. Baru ketika sampai rumah, spedo meter menunjukkan jarak 16 an kilometer.Ternyata lumayan jauh juga untuk mengawali kegiatan gowes kali....Tapi yang jelas jarak itu akan semakin bertambah tentunya, seiring dengan semakin meningkatnya aktivitas gowes dan bertambahnya performance tubuh...
Apapun itu....Gowes memang selalu asyikk dan menyehatkan.....Ayo kita gowes...!!!!
Entah kapan tepatnya semua aktivitas seperti yang nampak pada foto disamping dimulai. Yang jelas saya cukup terpana dan terheran-heran dengan segala pemandangan yang ada pada foto disamping. Tepatnya di jalan penghubung antara perumahan GKB dengan desa Suci.

Beberapa bulan yang lalu saya masih menikmati kegiatan bersepeda di area yang sekarang dipadati dengan aktifitas yang kelihatannya adalah pengeboran minyak tersebut. Menyusuri perbukitan kapur, disela-sela para pekerja pencari batu kapur yang mempersiapkan diri untuk memulai aktifitasnya.
Indah dan menyenangkan sekali. Waktu itu seingat saya hanya sebelah kiri sisi jalan(kalau dari arah GKB ke Suci) terdapat kegiatan pengeboran minyak. Itupun masih sepi aktifitas, karena sempat terhenti entah karena apa. Setiap melintasi area lembah kapur tersebut selalu membuat saya untuk berhenti sejenak, menikmati pemandangan hamparan lembah tersebut.

Namun hari Minggu kemarin.....betapa terkejutnya. Karena di sisi kiri dan kanan jalan terdapat pemandangan yang ramai aktifitas seperti yang tampak di atas. Bagi saya pribadi, hal ini sangat memprihatinkan...Terlepas dari siapa yang mempunyai kuasa dan berhak untuk memutuskan pengolahan area tersebut...saya sebagai penduduk Gresik yang tinggal di wilayah tersebut merasa kehilangan...dan hanya bisa prihatin....apakah tidak ada tempat lain di area Gresik yang jauh dari pemukiman penduduk yang bisa diexplorasi untuk kepentingan seperti itu....? Apakah keamanan, ataupun kesehatan lingkungan( dan ah...kenyamanan) dari penduduk sekitar sudah diperhitungkan dengan adanya proyek tersebut....? Apakah mereka yang membangun itu sudah mempersiapkan rencana tanggap darurat apabila ada kondisi emergency bagi warga disekitarnya...?Apakah nantinya tidak akan ada lahan kosong di area Gresik yang akan tersisah karena semuanya akan di explore habis-habisan...?

Saya nggak ngerti dan nggak bisa jawab pertanyaan-pertanyaan yang sepele tersebut....tapi yang jelas, saya(dan saya harapkan juga semua warga Gresik yang lainnya) untuk selalu buka mata dan telinga, guna ikut mengawasi kemungkinan terjadinya segala aktifitas yang sekiranya sengaja ataupun tidak disengaja merusak dan merugikan lingkungan kota Gresik tercinta....Ayo..!!!



Sebelum berlangsungnya Konferensi Tingkat Tinggi(KTT) Perubahan Iklim Internasional di Kopenhagen(7-13 Desember 2009), Perdana Mentri Nepal Madhav Kumar beserta 22 menterinya melakukan rapat kabinet, di dataran tinggi Kalapathar di kaki gunung Everest. Tindakan unik dan keren tersebut diadakan sebagai langkah persiapan untuk menghadapi KTT di Kopenhagen yang dianggap sangat penting untuk membahas langkah-langkah konkret dalam mencegah pemanasan global.

Rapat itu berlangsung di atas ketinggian 17192 kaki atau 5240 meter di atas permukaan laut, bertujuan untuk menarik perhatian dunia akan bahaya pemanasan global yang mengancam penduduk dunia dan kushusnya Nepal. Gletser telah mencair sehingga membentuk sebuah danau glasial yang besar. Dan berpotensi menjadi banjir bandang yang mengancam jutaan jiwa yang tinggal di lereng dan kaki gunung. Sekarang salju hanya tampak di puncak tertinggi Everest. Maka dari itu Nepal sangat berharap akan adanya langkah konkrit yang bisa diambil untuk mencegah "global warming pada KTT di Kopenhagen tersebut.

Sebulan sebelumnya Pemerintah negara kepulauan Maladewa mengadakan rapat kabinet di dasar Samudra Hindia.

Negara kepulauan yang membentang di samudra Hindia tersebut melaksanakan rapat kabinet di dasar samudra dengan tujuan menarik perhatian dunia untuk lebih peduli terhadap pencegahan proses "global warming", sekaligus untuk menyambut dilaksanakan KTT Perubahan Iklim Internasioanal PBB di Kopenhagen.

Aksi tersebut memang telah berhasil menyedot perhatian dunia. Hal ini terbukti aksi yang hebat dan tergolong ekstrim tersebut sekarang seakan menjadi trend bagi para pemimpin pemerintahan dunia.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Bukankah kita mempunyai kepetingan dan keterkaitan yang sama dengan negara-negara tersebut diatas akan ancaman global warming? Bukankah kita bisa mempunyai peran yang besar akan pencegahan proses global warming, karena kita mempunyai terumbu karang dan hutan tropis yang sangat luas, yang mampu mencegah global warming. Tapi kita juga perpotensi sebgai kontributor besar timbulnya emisi karbon sebagai penyebab global warming, karena kita adalah produsen minyak bumi.


Harusnya kita meniru langkah-langkah yang telah diambil oleh pemimpin pemerintahan dari Maladewa dan Nepal. Karena tindakan tersebut cukup efektif untuk menarik perhatian semua media international demi terangkatnya isu "gobal warming" di negara kita.

Menurut saya, biar nggak kalah keren, Presiden RI perlu menyelenggarakan rapat dengan menteri-menterinya di luar Istana. Misalnya di tengah belantara hutan Kalimantan atau Papua. Pasti nggak kalah seru dengan yang diatas gunung ataupun di dasar samudra.

Kalau menurut anda sendiri, dimanakah lokasi di Indonesia yang paling keren untuk rapat kabinet, sehingga dapat memancing perhatian semua media Internasional guna mengangkat isu global warming?

Sumber: dari segala sumber.
Photo : The Guardian



Hot mud flow in Sidoarjo for the first time burst in Siring village, Porong, Sidoarjo, East Java province on May 29 2006. 200 meters from the well drilling of Lapindo Brantas Inc. in Renokenogo village. For the last three years, hot mud outpouring has reached at an average rate more than 40,000 m3/day, with a temperature of 80 - 90 degrees Celsius. The"mud volcano" in Sidoarjo district has inundated 4 adjacent villages, displaying nearly 7000 people. Almost 12,000 medical treatments have been carries out, mainly for people affected by the release of hydrogen sulphide gas.

The Sidoarjo mud handling board now focusing on overcoming mud spill on the surface, rather than trying to stop the outpouring

There is no effective way of stopping the mud outpours. Some efforts to stop the outpouring that had been done included building a relief well and planting concrete balls. But everything is of no avail, although trillions of IDR had been spent. Thot mud outpouring had reached the stage of cauldron with a rapid process of deformation reaching 4 meters a day.

According to some experts, hot mud flow are geological phenomena due to over pressurized, subsurface mud layer. The cause of the eruption has not yet been established. However, it may be linked to the gas exploration activities by Lapindo Brantas Inc. at the Banjar Panji I well.

Others experts maintained that the disaster has nothing to do with drilling, but is a natural phenomenon, for the reason that the center of the outpours lies 200 meters from the drilling site, and therefore suspected of being triggered by a tectonic quake in Yogyakarta on May 27, 2006.

Picture: Reuters

Orangutan is one of the man's closest relatives and most enigmatic cousins in the animal kingdom, sharing 96.4 % of our DNA. Orangutan could be virtually extinct within several years after it was discovered that the animal's rain forest habitat is being destroyed even more rapidly than had been predicted. Orangutan mean person of the forest. If the forest are gone, then the orangutans will be gone too...as the forest are their habitat.
The Borneo OrangUtan Survival Foundation UK, a charity which works to rescue, rehabilitate and release the animals into protected forest, warned that at the current rate of deforestation by some industry, orangutans in the wild could be close to extinction by 2010.

According to data from the Forestry Ministry's Natural Resources Conservation Center, forest have been declining annually between 1 and 1.5% in Sumatra and between 1.5 and 2% in Kalimantan.

The forests decline was partly due to the implementation of regional autonomy in 2001, which has given regencies authority to issue any regulation they consider necessary for their respective regencies to attract new investments.
With such authority, many regencies have seen their forests decrease rapidly, bringing catastrophe to many species, including the orangutan.

The rapid conversion of forests, combined with weak enforcement of environmental laws, has also increased the human-orangutan conflicts as many orangutans start seeking food outside of their habitat.

According to Center for Orangutan Protection(COP), politicians and state officials were to blame for letting and even supporting the constant illegal deforestation in the national park.

Construction of the road destroyed the habitat of orangutans and leads to wide scale deforestation. Between 22,000 and 70,000 people have contributed to the deforestation of 23,712 acres of Kutai National Park. The park was turning into a city, with an airport, gas station, and red light district.

The COP has urged the Corruption Eradication Commission (KPK) to enforce the law in order to preserve endangered orangutans in the Kutai National Forest.

The best solution is to seize and put the corrupt politicians and officials to jail. This will make their supporters leave the forests and stop all illegal activites.

Compile from: Any resources.
Picture : The Jakarta Post/JP



The World Ocean Conference(WOC) would be held on May 11 to May 16 in Manado, North Sulawesi Indonesia. The expected output from the WOC 2009 is the formal adoption of the Manado Ocean Declaration to e followed by action plan and the establishment of the World Ocean Forum.
The world need to be aware of the importance of oceans, and the World Ocean Conference 2009 will discuss oceans in relation to global climate change. Indonesia hopes the conference of over 120 nations will produce a tangible outcomes to assist its 17000 islands in countering the impact of global warming.

Geographically, Indonesia archipelago consists of 73 percent water and 27 percent land. With more than 17480 islands and coastline stretches as far as 95181 kilometers, which is mean the fourth longest coastline globally after Canada, the United States, and Russia.

The impact of global warming will become very evident as we are an archipelagic state. Increasing temperature will causes the ice pole melt and which will significantly impact our thousands of islands. coral reefs will be killed because of undesirable sea condition. The marine life relying on this reefs are also killed.

Indonesia has huge potential marine and fishery industries. That's why with WOC 2009 and the Coral Triangle Iniciative(CTI) 2009 summit in Manado North Sulawesi hope the global community will become more aware of the importance of oceans to the lives of human being.


Swine flu has not yet hit Lebanon but is threatening a national custom there. Lebanese should stop greeting each other with kisses to the cheek.
According to Reuters Health Minister Mohammad Khalifeh told a news conference called to explain measures to tackle the potential spread of the deadly strain.
" If you visit someone, don't ex-change kisses....Let's stop the social kissing habit," the Health Minister said. Lebanese have long greeted each other with three kisses to the cheek.

Other measures include keeping school children with flu at home and avoiding travel to countries where the viruses has appeared.
The new strain of swine flu has killed at least 150 people in Mexico. Israel, which borders Lebanon to the south, confirmed a case of the virus.

From: Reuters
Picture: The Huffington Post




Cycling is one of the few physical activities which can be undertaken by majority of people as part of a daily routine.

Here are some of the benefit of cycling:

- Cycling is mainly an aerobic activity. This is beneficial to the lungs which expand to push as much oxygen into the body as possible.

- The heart which beats faster to transport this oxygen around your body. A strong heart and powerful lungs form the basis of general fitness.



- According to the expertise, cycling at least 32 Km per week reduces the risk of coronary heart disease to less than half that for non-cyclist. Cycling at gentle 19-20 Km/h on a flat road uses 450 Kcal per hour.

- It is also claimed that cycling raises the speed of your metabolism for hours afterward, so your body continues to burn calories even after cycling.

- With Cycling leg strength also improved. This is more important than it seems because leg strength improves other mobility by allowing people to get out of chairs more easily, and helps older people especially avoid falls and the broken bones or other injuries associated with them. Include reducing serious injuries caused by fall in older people, osteoporosis, and hip fracture.

- Cycling also releases what are known as endorphins into your blood. These are create a feeling of contentment and happiness, therefore helping to reduce stress and make you feel younger. Naturally, if you ride your bike in pleasant surroundings, your contentment level will be even greater.

There are so many benefits we have from cycling. That's why from this article I suggest to you to start cycling. And if you've already started, just keep cycling and make a community in your surrounding area.

Happy cycling

Quote from: www.cobr.co.uk





Kemarin, Senin siang, bertepatan dengan hari libur tahun baru Hijriyah 1430, saya menyempatkan diri untuk melihat langsung lokasi semburan lumpur di Gresik. Awalnya nggak ada rencana untuk kesana, karena saya dan dua anak saya lagi bermotor ria ke "Makam Putri Cempo". Saat berniat pulang ke rumah, kami berpapasan dengan sepasang remaja yang menanyakan dimana lokasi semburan lumpur Gresik yang sekarang lagi hangat diberitakan oleh media cetak dan televisi.
Setelah saya menunjukkan arah lokasinya(kebetulan hari Minggu sepulang dari kondangan manten di Surabaya kita melewati lokasi tsb), lah kok saya jadinya kepingin juga melihat dari dekat semburan lumpur tersebut. Segera setelah mendapatkan kesepakatan dari dua anak saya yang sudah terlihat capek dan lelah, kita memutuskan untuk mampir kesana sembari pulang menuju rumah.


Seperti halnya Lumpur Lapindo di Porong, lokasi semburan lumpur yang tidak jauh dari wisata religi "Giri Kedaton dan Makam Sunan Giri" tersebut ternyata banyak di penuhi oleh "pengunjung", yang kebanyakan adalah warga Gresik sendiri. Sehingga ada beberapa kelompok pemuda setempat menyediakan lokasi parkir untuk motor dan mobil dadakan di area pengeboran minyak tersebut. Bahkan juga ada beberapa pedagang makanan dan minuman mencoba mencari peruntungan di tengah ramainya pengunjung semburan lumpur Gresik.
Pada saat kami sampai di sana semburan lumpur terlihat sudah berhenti. Menurut informasi yang ada, terdapat empat titik semburan. Tiga diataranya sudah berhasil disumbat. Sedangkan satu lagi masih menampakkan aktifitasnya setiap 3 menitan. Rupanya team dari pihak pengeboran minyak(Petrochina)sudah berhasil mengendalikan titik titik semburan tersebut, untuk tidak menjadi semakin berlarut seperti halnya di Porong, Sidoarjo.
Lokasi semburannya sendiri adalah memang daerah yang kaya akan kandungan minyak dan gas, yang di masa-masa sebelumnya dilokasi tersebut banyak masyarakat setempat memasak makanan khas kota Gresik yakni "Kupat Kheteg".
Ya....kita sebagai warga Gresik sangat mengharapkan keseriusan pihak Petrochina yang melakukan pengeboran di area tersebut untuk segera menuntaskan segala pekerjaan sehubungan dengan penanggulangan semburan-semburan lumpur tersebut. Kita juga berharap kepada pihak Pemda Kabupaten Gresik untuk memberikan perhatian dan pengawasan yang serius terhadap masalah ini. Dan sebagai masyarakat Gresik, marilah kita bersama-sama ikut mencermati dan ikut mengawasi masalah ini. Jangan sampai peristiwa Lapindo di Porong, Sidoarjo terulang di kota Gresik tercinta.



This year’s scientific report from the UN’s Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) has made clear beyond doubt that climate change is a reality and can seriously harm the future development of our economies, societies and eco-systems worldwide. Immediate action is needed to be able to prevent the most severe impacts. Since climate change is a global issue, tackling climate change and its impacts can only be successfully coordinated at the international level.

The UN Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) presents the appropriate forum to do this. It has been expanded by the Kyoto Protocol which includes emission reduction commitments for developed countries over the period 2008-2012.

A new international climate change deal must be put in place in time to ensure that necessary action is undertaken immediately after 2012 when the current phase of the Kyoto Protocol ends. Therefore, comprehensive negotiations on a new climate deal need to begin without further delay. At the Bali Conference, Parties are expected to agree to the launch of this process.

"There is a great deal of public awareness of the significance of the Bali conferences. There is a public demand for concrete and bold accents. Thus we are looking forward to their principal outcome: a bold, global decision addressing climate change without significantly jeopardizing development efforts. That is what makes the Bali climate conference so crucial to the future of humankind" said Mr Susilo Bambang Yudhoyono President of Indonesia.


The climate of the Earth is always changing. In the past it has altered as a result of natural causes. Nowadays, however, the term climate change is generally used when referring to changes in our climate which have been identified since the early part of the 1900's. The changes we've seen over recent years and those which are predicted over the next 80 years are thought to be mainly as a result of human behaviour rather than due to natural changes in the atmosphere.

The greenhouse effect is very important when we talk about climate change as it relates to the gases which keep the Earth warm. It is the extra greenhouse gases which humans have released which are thought to pose the strongest threat.

The greenhouse effect is at the center of the climate change debate. Therefore, its important to understand how its affects our planet.
The sun heats up the earth by sending solar rays towards us. Some of these rays don't get through our atmosphere. Those that do, warm up the Earth.

When the Earth warms up it radiates its own rays of heat - infrared rays. Those which don't escape past the atmosphere, are absorbed by greenhouse gases. These green houses gases warm the Earth so it is at the temperature we experience now. Without this process the Earth would be some 30 C cooler and life on our planet would be very different.

However, we are producing too many greenhouse gases, which mean they are absorbing more heat and warming the Earth too much - this is called "global warming".
One of main greenhouse gases is Carbon Dioxide which can be created from the chopping down and burning of trees.

The fossil-fuel used in cars, power-plants and machinery also creates Carbon Dioxide. Therefore, if we reduce the use of fuel and reduce deforestation, the amount of greenhouse gas around the Earth should also be reduce.

Scientists say it is already too late to prevent global warming and therefore climate change. But by reducing greenhouse gases we could still limit the impact. Even a change in temperature of under 1 C is enough to cause changes in rainfall and sea level rises.

from the BBC Weather Centre
picture from: Linc Gas Service Care






Sample Text

Powered by Blogger.
Powered By Blogger

Popular Posts

Total Pageviews